Home

Matematika, masih menjadi momok dalam Ujian Nasional (UN). Coba saja googling sederhana dengan keyword; matematika+UN, akan begitu banyak ditemukan pada hampir semua daerah di Indonesia, matematika itu ibarat ‘kartu mati’ peserta UN. Memang tidak saja matematika, ada mata pelajaran lain namun itu lebih bervariasi; ada Bahasa Inggris, Sosiologi, bahkan Bahasa Indonesia.
Padahal tidak sedikit langkah diterapkan untuk menjadikan matematika sebagai mata pelajaran yang asyik dan tidak lagi menakutkan. Paling akhir misalnya, banyak guru matematika di Malang dan beberapa daerah di Jawa Timur (bahkan nasional), dilatih Metode Gasing. Belum lagi dukungan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang makin memberi keleluasaan guru menerapkan banyak metode dan model pengajaran yang lain.
Berikut pandangan Iwan Pranoto, Guru Besar Ilmu Matematika ITB yang baru dikukuhkan 30 Maret lalu. Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul Menggali Hakikat Bermatematika Melalui Pengembangan Teori Kontrol, pria yang akrab disapa Kang Iwan ini memaparakan banyak hal terkait visi kurikulum matematika yang banyak direduksi. Pada akhirnya matematika hanya melahirkan tukang penghitung, bukan matematikawan.
Dalam konteks UN; kenapa mayoritas siswa mengalami kesulitan dan nilai yang jeblok pada mata pelajaran matematika? Apa pada kisi-kisi soal UN yang tidak nyambung dengan materi yang diajarkan guru di sekolah? Apa soal teknis menyangkut ketidaktahuan siswa dalam menyiasati cara mengerjakan ujian matematika dengan benar dan cerdas? Atau kah lebih pada faktor psikologis dimana matematika sudah lebih dulu dianggap sebagai mata pelajaran yang susah dan harus dikorbankan dalam nilai UN?
Selanjutnya... Add new comment



